I.
Pendahuluan
Manusia, dalam pandangan kebendaan (materialis) hanyalah
merupakan sekepal tanah dibumi. Dari bumi asalnya, dibumi dia berjalan, dari
bumi dia makan dan kebumi dia kembali. Dari tanah, kembali menjadi tanah.
Manusia dalam pandangan kaum materialism, tidak lebih dari kumpulan darah,
daging, urat, tulang urat-urat darah dan alat pencerna. Akal dan pikiran,
dianggapnya barang benda, yang dihasilkan oleh otak. Pandangan mereka hanya
sampai benda, dan hanya mempercayai adanya benda-benda yang dapat diraba. Maka
oleh karena itu dalam anggapan mereka, tidak ada keistimewaan manusia dibanding
dengan makhluk lain yang hidup dibumi ini, bahkan dimasukan ke dalam bangsa
kera, yang setelah melalui masa panjang, berubah menjadi manusia sbegai kita
lihat sekarang ini. Inilah teori evolusi atau teori desedensi, bahwa hayat
berasal dari makhluk satu sel. Dia berevolusi kedua arah yaitu binatang dan
tanaman. Evolusi itu berlangsung setingkat demi setingkat membentuk sejuta
jenis hewan dan sepertiga juta jenis tanaman. Binatang satu sel sebagai awal
evolusi dan manusia akhir (sementara) evolusi.
Pandangan ini menimbulkan kesan seolah-olah manusia ini
makhluk yang rendah dan hina yang hidupnya hanya untuk memenuhi keperluan dan
kepuasan kebendaan semata. Pandangan hidup semacam ini adalah kesesatan.
Sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah, dalam Al-qur’an. Dan mereka berkata ;
“Kehidupan ini tidak lain hanya kehidupan didunia saja, kita mati dan kita
hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali
tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah
menduga-duga saja. (Al-Jatsiyah (45) : 24).
Dalam pandangan orang beriman, manusia itu makhluk yang
mulia dan terhormat pada sisi Tuhan. Manusia diciptakan Tuhan dalam bentuk yang
amat baik. Tuhan memberi manusia ilmu pengetahuan dan kemauan, dijadikan khalifah
(penguasa) di bumi dan menjadi pusat kegiatan di alam ini. Segala apa yang ada
dilangit dan di bumi, semuanya bekerja untuk kepentingan manusia, dan kapadanya
diberikan nikmat lahir dan batin.
Jadi dari uraian diatas yang menjadi pokok masalah
adalah :
a.
Apa hak dan kewajiban manusia ?
b.
Bagaimana hubungan manusia dan ilmu pengetahuan ?
II.
Pembahasan
Hak dan kewajiban manusia adalah sesuatu tuntutan yang
sah sesuai dengan kewajiban dalam islam. Sedangkan wajib adalah pekerjaan yang
mendapat pahala, apa bila dikerjakan dan akan mendapat sangsi hukum, apa bila
ditinggalkan.
·
Hak Tuhan, yang pertama dan lebih penting ialah mengimani-Nya
dan tidak mensyarikatka-Nya. Kedua, ialah kita harus menerima petunjuk-Nya.
Ketiga kita harus mentaati-Nya dan dinyatakan dengan ketundukan kepada
hukum-Nya. Dan keempat, kita harus menyembah-Nya. Seperti apa yang telah
difirmankan. Allah dalam Al Qur’an : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (adz-Dzariat (51) : 56).
·
Hak terhadap diri sendiri, ialah hak pribadi
seseorang yaitu hak jasmani dan rokhaninya. Kelemahan manusia terbesar ialah
apabila keinginannya telah melampaui batas, ia pasti akan menjadi budaknya demi
untuk memuaskan hawa nafsunya, sadar atau tidak ia akan ditimpa bahaya besar.
Islam bertujuan untuk kebahagiaan manusia, karena ia
menasehatkan manusia akan haknya. Ia selamatkan manusia dari segala macam
bahaya seperti minuman keras, makanan yang haram, dan lain-lain, karena
benda-benda tersebut mempengaruhi manusia dari hal-hal yang merusak kesehatan,
merusak moral, fikiran dan rokhaninya. Islam mewajibkan dan memerintahkan
mengusai, mengatur, memiliki, kawin demi untuk kehormatan dirinya. Untuk
mendekatakan diri kepada Tuhan dengan tidak menjauhi urusan dunia. Hiduplah
seperti orang lain di dunia, ingat dan taqwa kepada Tuhan dengan mengikuti
ajaran-Nya yang telah disampaikan oleh Rasul-Nya. Ia tidak mengizinkan bunuh
diri, dan sesungguhnya manusia hidup untuk Allah.
·
Hak terhadap orang lain. Ialah hukum agama
memerintahkan manusia agar memenuhi keinginan pribadinya dengan tidak melampaui
batas, dan jangan sampai merusak hak orang lain.
Islam melarang manusia berbuat dusta, sebab orang yang
berdusta adalah membohongi diri sendiri. Menipu orang adalah suatu kesalahan,
tetapi menipu diri sendiri adalah seribu kesalahan. Dengan berdusta, manusia
akan ditimpa bahaya, sebab dusta adalah sumber bahaya bagi manusia. Karena
rejeki yang diperoleh dari jalan tersebut akan merugikan oang lain.
·
Hak atas harta yang diberikan Tuhan untuk
kepentingan dirinya, ialah memelihara dan memanfaatkan di jalan Allah, demi
mengharap Ridho-Nya.
·
Kewajiban manusia di muka bumi, ialah memelihara
dan menjaga keadaan lingkungan sekitar agar tidak rusak dan tercemar, karena
hal tersebut membahayakan kehidupan makhluk di bumi.
·
Kewajiban manusia sebagai khalifah di muka bumi,
ialah melestarikan dan memakmurkan kehidupan di bumi karena di tangan
manusialah terletak kemakmuran dan ketentramanya di dunia.
·
Kewajiban manusia menaati aturan islam dan UU
Negara. Sebagai manusia hendaknya kita menaati perintah Allah yang telah
diberikan dan menjauhi larangan-Nya agar selamat dunia akherat, selain itu juga
menaati aturan dalam sebuah keteraturan Negara agar tidak meninggalkan hakekat
kita sebagai manusia yang berbudi dan beriman.
Sebagai manusia yang menjadi khalifah di atas bumi, maka
di tangan manusialah letak kemakmuran dan ketentraman dunia. Tapi disebabkan
oleh perbuatan manusia juga dunia ini menjadi kacau balau, tidak ada
kemakmuran, berbunuh-bunuhan di antara sesamanya, karena mereka mengabaikan
segala amanat Allah.
Sebagai pedoman hidup manusia dalam mengelola dan
melaksanakan tugas itu, Allah menurunkan agama-Nya. Dengan petunjuk agama
manusia dapat menjalankan tugasnya, sebab agama menjelaskan dua jalan yaitu
jalan bahagia dan jalan yang membahayakannya. Manusia dijadikan Allah sebagai
khalifah di bumi. Sebagaimana dinyatakan dalam dalam Al-Qur’an : Dan Allah
menjadikan manusia sebagai penguasa-penguasa di bumi dan meninggikan sebagai
manusia atas sebagian (yang lain) beberapa derajat untuk menguji manusia
tentang apa yang diberikan-Nya kepada manusia.(Al-An’m (6) : 165). Kemudian ditegaskan
pula, dengan firman-Nya dalam surat
Al-An’m (6) : 165
Timbulnya ilmu pengetahuan disebabkan
kebutuhan-kebutuhan manusia yang berkemauan untuk hidup lebih berbahagia. Dalam
mencapai dan memenuhi kebutuhan hidupnya manusia menggunakan akal dan pikirannya.
Mereka manengadah ke langit, memandang alam sekitar dan melihat dirinya
sendiri. Dalam hal ini memang telah menjadi Qudrat dan Iradat Tuhan bahwa
manusia dapat memikirkan sesuatu kebutuhan hidupnya.
Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang menyuruh berfikir,
dengan memperhatikan apa yang ada di langit dan di bumi dan memikirkan tentang
kejadian diri mereka.
Hasil dari pemikiran manusia tersebut, maka lahirlah
beberapa ilmu pengetahuan seperti : Ilmu pertanian, perikanan, humaniora,
kesehatan, Ilmu hukum social, Ilmu bahasa, Ilmu pasti alam dan teknologi
(iptek) dan lain sabagainya.
Ilmu pengetahuan itu bukan musuh atau lawan dari iman,
melainkan penunjuk jalan yang membimbing menuju keimanan. Sebagaimana kita
ketahui, banyak ahli ilmu pengetahuan yang berfikir dalam, telah dipimpin oleh
pengetahuanya kepada suatu pandangan, bahwa dibalik alam yang nyata ini ada
kekuatan yang lebih tinggi, yang menyusun dan mengatur, memelihara segala
sesuatu dengan ukuran dan perhitungan.
Herbert Spencer dalam tulisanya tentang pendidikan
menerangkan sebagai berikut :
“Pengetahuan itu berlawanan dengan khufarat, tetapi
tidak berlawanan dengan agama. Dalam kebanyakan ilmu alam kedapatan paham tidak
bertuhan (atheisme), tetapi pengetahuan yang sehat dan mendalami kenyataan,
bebas dari paham yang sedemikian itu. Ilmu alam tidak bertentengan dengan
agama. Mempelajari ilmu itu merupakan ibadah secara diam, dan pengakuan yang
membisu tentang keindahan sesuatuyang kita selidiki dan kita pelajari, dan
selanjutnya pengakuan tentang kekuasaan penciptanya. Mempelajari ilmu alam itu
tasbih (memuji Tuhan) tapi bukan ucapan, melainkan tasbih berupa amal dan
menolong dalam bekerja.. pengetahuan ini bukan mengatakan mustahil akan
memperoleh sebab yang prtama. Yaitu Allah”.
“Seorang ahli pengetahuan yang melihat setitik air, lalu dia
mengetahuinya bahwa air itu tersusun dari oxygen dan hydrogen, dengan
perbandingan tertentu dan kalau sekiranya perbandingan itu berubah niscaya air
itu akan berubah pula menjadi sesuatu yang bukan air. Maka dengan itu dia akan
meyakini kebesaran sang pencipta, kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Sebaliknya
orang yang bukan ahli dalam ilmu alam, akan melihatnya tidak lebih dari setitik
air”.
Dengan memiliki ilmu seseorang dapat mencapai derajat
sebagai uhul albab, yaitu orang-orang yang dapat memikirkan dan meneliti
keagungan Allah melalui ayat-ayat qauliyah yang terdapat dalam kitab
suci Al Qur’an dan ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kekuasaan Allah) yang
terdapat di alam semesta. Untuk mencapai derajat ilmuan dan intelektual
tersebut, kita dituntunkan untuk berusaha maraihnya, kapanpun, dimanapun dan
sampai kapanpun.
Ilmu pengetahuan yang dilimpahakan kepada manusia yang
kebanyakan manusia menganggap banyak ilmu yang dimilikinya sehingga dalam
hidupnya menjadi sombong., adalah sangat sedih menurut pandangan Allah. “…. Roh
itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidak kamu di beri pengetahuan melainkan
sedikit (Al-Isra’ (17) : 85).
III. Penutup
Kesimpulannya , apa yang ada di bumi ini adalah ciptaan
Allah yang tak ternilai harganya, sebagai anugrah-Nya, yang ada di alam ini
bekhidmat kepada manusia, dan Tuhan menciptakan manusia untuk berkhidmat kepada
Tuhan. Sebagai manusia khalifah kita harus menjaga dan memelihara kelestarian,
kedamaian, kenyamanan dan ketentraman dunia sebagaimana hak dan kewajiban kita
sebagai makhluk yang diberi derajat oleh Tuhan sebagai makhluk sempurna dari
yang lain. Oleh karena itu kita harus menggunakan ilmu yang telah kita dapat
dan pelajari dengan sebaik mungkin demi kelestarian bumi, baik ilmu social,
pengetahuan alam, kesehatan dan IPTEK. Agar kita termasuk manusia beriman dan
selalau bersyukur kepada Allah.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak akan
selesai tanpa ridho Allah dan dorongan dari saudara kerabat. Penulis berharap
makalah ini bermanfaat bagi mahasiswa, guru dosen dan pendidik, khususnya saya
sendiri untuk melengkapi tugas dari dosen mata kuliah Bahsa Indonesia . Saran dan kritik
senantiasa penulis nantikan, sehingga dapat memperbaiki penulisan makalah
selanjutnya, karena ilmu yang dipahami penulis belum seberapa dalam. Terima
kasih di ucapakan atas hadirnya kritik dan sarannya.
IV. Daftar
Pustaka
Basyir A. Azhar.1988. Pendidikan Agama Islam (Aqidah). Yogyakarta : UII
Mentoring Al-Islam.2008. Menuju Keshalehan Individu
dan Sosial: Etika Menuntut Ilmu. Surakarta :
LPID UMS
Studi Islam 1. 2004. Sumber-sumber Akhlak: Al-Qur’an. Surakarta : LSI UMS
Tim UNS.1995. Pandangan Manusia Dalam Islam. Surakarta : Perpustakaan UNS

Tidak ada komentar:
Posting Komentar