Selasa, 13 November 2012

khalifah








I. Pendahuluan
Manusia, dalam pandangan kebendaan (materialis) hanyalah merupakan sekepal tanah dibumi. Dari bumi asalnya, dibumi dia berjalan, dari bumi dia makan dan kebumi dia kembali. Dari tanah, kembali menjadi tanah. Manusia dalam pandangan kaum materialism, tidak lebih dari kumpulan darah, daging, urat, tulang urat-urat darah dan alat pencerna. Akal dan pikiran, dianggapnya barang benda, yang dihasilkan oleh otak. Pandangan mereka hanya sampai benda, dan hanya mempercayai adanya benda-benda yang dapat diraba. Maka oleh karena itu dalam anggapan mereka, tidak ada keistimewaan manusia dibanding dengan makhluk lain yang hidup dibumi ini, bahkan dimasukan ke dalam bangsa kera, yang setelah melalui masa panjang, berubah menjadi manusia sbegai kita lihat sekarang ini. Inilah teori evolusi atau teori desedensi, bahwa hayat berasal dari makhluk satu sel. Dia berevolusi kedua arah yaitu binatang dan tanaman. Evolusi itu berlangsung setingkat demi setingkat membentuk sejuta jenis hewan dan sepertiga juta jenis tanaman. Binatang satu sel sebagai awal evolusi dan manusia akhir (sementara) evolusi.
Pandangan ini menimbulkan kesan seolah-olah manusia ini makhluk yang rendah dan hina yang hidupnya hanya untuk memenuhi keperluan dan kepuasan kebendaan semata. Pandangan hidup semacam ini adalah kesesatan. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah, dalam Al-qur’an. Dan mereka berkata ; “Kehidupan ini tidak lain hanya kehidupan didunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Al-Jatsiyah (45) : 24).
Dalam pandangan orang beriman, manusia itu makhluk yang mulia dan terhormat pada sisi Tuhan. Manusia diciptakan Tuhan dalam bentuk yang amat baik. Tuhan memberi manusia ilmu pengetahuan dan kemauan, dijadikan khalifah (penguasa) di bumi dan menjadi pusat kegiatan di alam ini. Segala apa yang ada dilangit dan di bumi, semuanya bekerja untuk kepentingan manusia, dan kapadanya diberikan nikmat lahir dan batin.



Jadi dari uraian diatas yang menjadi pokok masalah adalah :
a.       Apa hak dan kewajiban manusia ?
b.      Bagaimana hubungan manusia dan ilmu pengetahuan ?

II. Pembahasan
Hak dan kewajiban manusia adalah sesuatu tuntutan yang sah sesuai dengan kewajiban dalam islam. Sedangkan wajib adalah pekerjaan yang mendapat pahala, apa bila dikerjakan dan akan mendapat sangsi hukum, apa bila ditinggalkan.
·         Hak Tuhan, yang pertama dan lebih penting ialah mengimani-Nya dan tidak mensyarikatka-Nya. Kedua, ialah kita harus menerima petunjuk-Nya. Ketiga kita harus mentaati-Nya dan dinyatakan dengan ketundukan kepada hukum-Nya. Dan keempat, kita harus menyembah-Nya. Seperti apa yang telah difirmankan. Allah dalam Al Qur’an : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (adz-Dzariat (51) : 56).
·         Hak terhadap diri sendiri, ialah hak pribadi seseorang yaitu hak jasmani dan rokhaninya. Kelemahan manusia terbesar ialah apabila keinginannya telah melampaui batas, ia pasti akan menjadi budaknya demi untuk memuaskan hawa nafsunya, sadar atau tidak ia akan ditimpa bahaya besar.
Islam bertujuan untuk kebahagiaan manusia, karena ia menasehatkan manusia akan haknya. Ia selamatkan manusia dari segala macam bahaya seperti minuman keras, makanan yang haram, dan lain-lain, karena benda-benda tersebut mempengaruhi manusia dari hal-hal yang merusak kesehatan, merusak moral, fikiran dan rokhaninya. Islam mewajibkan dan memerintahkan mengusai, mengatur, memiliki, kawin demi untuk kehormatan dirinya. Untuk mendekatakan diri kepada Tuhan dengan tidak menjauhi urusan dunia. Hiduplah seperti orang lain di dunia, ingat dan taqwa kepada Tuhan dengan mengikuti ajaran-Nya yang telah disampaikan oleh Rasul-Nya. Ia tidak mengizinkan bunuh diri, dan sesungguhnya manusia hidup untuk Allah.
·         Hak terhadap orang lain. Ialah hukum agama memerintahkan manusia agar memenuhi keinginan pribadinya dengan tidak melampaui batas, dan jangan sampai merusak hak orang lain.
Islam melarang manusia berbuat dusta, sebab orang yang berdusta adalah membohongi diri sendiri. Menipu orang adalah suatu kesalahan, tetapi menipu diri sendiri adalah seribu kesalahan. Dengan berdusta, manusia akan ditimpa bahaya, sebab dusta adalah sumber bahaya bagi manusia. Karena rejeki yang diperoleh dari jalan tersebut akan merugikan oang lain.
·         Hak atas harta yang diberikan Tuhan untuk kepentingan dirinya, ialah memelihara dan memanfaatkan di jalan Allah, demi mengharap Ridho-Nya.
·         Kewajiban manusia di muka bumi, ialah memelihara dan menjaga keadaan lingkungan sekitar agar tidak rusak dan tercemar, karena hal tersebut membahayakan kehidupan makhluk di bumi.
·         Kewajiban manusia sebagai khalifah di muka bumi, ialah melestarikan dan memakmurkan kehidupan di bumi karena di tangan manusialah terletak kemakmuran dan ketentramanya di dunia.
·         Kewajiban manusia menaati aturan islam dan UU Negara. Sebagai manusia hendaknya kita menaati perintah Allah yang telah diberikan dan menjauhi larangan-Nya agar selamat dunia akherat, selain itu juga menaati aturan dalam sebuah keteraturan Negara agar tidak meninggalkan hakekat kita sebagai manusia yang berbudi dan beriman.
Sebagai manusia yang menjadi khalifah di atas bumi, maka di tangan manusialah letak kemakmuran dan ketentraman dunia. Tapi disebabkan oleh perbuatan manusia juga dunia ini menjadi kacau balau, tidak ada kemakmuran, berbunuh-bunuhan di antara sesamanya, karena mereka mengabaikan segala amanat Allah.
Sebagai pedoman hidup manusia dalam mengelola dan melaksanakan tugas itu, Allah menurunkan agama-Nya. Dengan petunjuk agama manusia dapat menjalankan tugasnya, sebab agama menjelaskan dua jalan yaitu jalan bahagia dan jalan yang membahayakannya. Manusia dijadikan Allah sebagai khalifah di bumi. Sebagaimana dinyatakan dalam dalam Al-Qur’an : Dan Allah menjadikan manusia sebagai penguasa-penguasa di bumi dan meninggikan sebagai manusia atas sebagian (yang lain) beberapa derajat untuk menguji manusia tentang apa yang diberikan-Nya kepada manusia.(Al-An’m (6) : 165). Kemudian ditegaskan pula, dengan firman-Nya dalam surat Al-An’m (6) : 165
Timbulnya ilmu pengetahuan disebabkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang berkemauan untuk hidup lebih berbahagia. Dalam mencapai dan memenuhi kebutuhan hidupnya manusia menggunakan akal dan pikirannya. Mereka manengadah ke langit, memandang alam sekitar dan melihat dirinya sendiri. Dalam hal ini memang telah menjadi Qudrat dan Iradat Tuhan bahwa manusia dapat memikirkan sesuatu kebutuhan hidupnya.
Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang menyuruh berfikir, dengan memperhatikan apa yang ada di langit dan di bumi dan memikirkan tentang kejadian diri mereka.
Hasil dari pemikiran manusia tersebut, maka lahirlah beberapa ilmu pengetahuan seperti : Ilmu pertanian, perikanan, humaniora, kesehatan, Ilmu hukum social, Ilmu bahasa, Ilmu pasti alam dan teknologi (iptek) dan lain sabagainya.
Ilmu pengetahuan itu bukan musuh atau lawan dari iman, melainkan penunjuk jalan yang membimbing menuju keimanan. Sebagaimana kita ketahui, banyak ahli ilmu pengetahuan yang berfikir dalam, telah dipimpin oleh pengetahuanya kepada suatu pandangan, bahwa dibalik alam yang nyata ini ada kekuatan yang lebih tinggi, yang menyusun dan mengatur, memelihara segala sesuatu dengan ukuran dan perhitungan.
Herbert Spencer dalam tulisanya tentang pendidikan menerangkan sebagai berikut :
Pengetahuan itu berlawanan dengan khufarat, tetapi tidak berlawanan dengan agama. Dalam kebanyakan ilmu alam kedapatan paham tidak bertuhan (atheisme), tetapi pengetahuan yang sehat dan mendalami kenyataan, bebas dari paham yang sedemikian itu. Ilmu alam tidak bertentengan dengan agama. Mempelajari ilmu itu merupakan ibadah secara diam, dan pengakuan yang membisu tentang keindahan sesuatuyang kita selidiki dan kita pelajari, dan selanjutnya pengakuan tentang kekuasaan penciptanya. Mempelajari ilmu alam itu tasbih (memuji Tuhan) tapi bukan ucapan, melainkan tasbih berupa amal dan menolong dalam bekerja.. pengetahuan ini bukan mengatakan mustahil akan memperoleh sebab yang prtama. Yaitu Allah”.
“Seorang ahli pengetahuan yang melihat setitik air, lalu dia mengetahuinya bahwa air itu tersusun dari oxygen dan hydrogen, dengan perbandingan tertentu dan kalau sekiranya perbandingan itu berubah niscaya air itu akan berubah pula menjadi sesuatu yang bukan air. Maka dengan itu dia akan meyakini kebesaran sang pencipta, kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Sebaliknya orang yang bukan ahli dalam ilmu alam, akan melihatnya tidak lebih dari setitik air”.
Dengan memiliki ilmu seseorang dapat mencapai derajat sebagai uhul albab, yaitu orang-orang yang dapat memikirkan dan meneliti keagungan Allah melalui ayat-ayat qauliyah yang terdapat dalam kitab suci Al Qur’an dan ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kekuasaan Allah) yang terdapat di alam semesta. Untuk mencapai derajat ilmuan dan intelektual tersebut, kita dituntunkan untuk berusaha maraihnya, kapanpun, dimanapun dan sampai kapanpun.
Ilmu pengetahuan yang dilimpahakan kepada manusia yang kebanyakan manusia menganggap banyak ilmu yang dimilikinya sehingga dalam hidupnya menjadi sombong., adalah sangat sedih menurut pandangan Allah. “…. Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidak kamu di beri pengetahuan melainkan sedikit (Al-Isra’ (17) : 85).

III. Penutup
Kesimpulannya , apa yang ada di bumi ini adalah ciptaan Allah yang tak ternilai harganya, sebagai anugrah-Nya, yang ada di alam ini bekhidmat kepada manusia, dan Tuhan menciptakan manusia untuk berkhidmat kepada Tuhan. Sebagai manusia khalifah kita harus menjaga dan memelihara kelestarian, kedamaian, kenyamanan dan ketentraman dunia sebagaimana hak dan kewajiban kita sebagai makhluk yang diberi derajat oleh Tuhan sebagai makhluk sempurna dari yang lain. Oleh karena itu kita harus menggunakan ilmu yang telah kita dapat dan pelajari dengan sebaik mungkin demi kelestarian bumi, baik ilmu social, pengetahuan alam, kesehatan dan IPTEK. Agar kita termasuk manusia beriman dan selalau bersyukur kepada Allah.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak akan selesai tanpa ridho Allah dan dorongan dari saudara kerabat. Penulis berharap makalah ini bermanfaat bagi mahasiswa, guru dosen dan pendidik, khususnya saya sendiri untuk melengkapi tugas dari dosen mata kuliah Bahsa Indonesia. Saran dan kritik senantiasa penulis nantikan, sehingga dapat memperbaiki penulisan makalah selanjutnya, karena ilmu yang dipahami penulis belum seberapa dalam. Terima kasih di ucapakan atas hadirnya kritik dan sarannya.

IV. Daftar Pustaka

Basyir A. Azhar.1988. Pendidikan Agama Islam (Aqidah). Yogyakarta: UII
Mentoring Al-Islam.2008. Menuju Keshalehan Individu dan Sosial: Etika Menuntut Ilmu. Surakarta: LPID UMS
Studi Islam 1. 2004. Sumber-sumber Akhlak: Al-Qur’an. Surakarta: LSI UMS
Tim UNS.1995. Pandangan Manusia Dalam Islam. Surakarta: Perpustakaan UNS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar