Rabu, 28 November 2012

Ajaran Yang Hebat



Kuatnya pragmatisme yang  mewarnai sendi-sendi kehidupan berakibat buruk pada memudarnya  nasionalisme. Nasionalisme sebagai pondasi kesadaran bernegara dan cinta tanah air kini tersisih oleh pola pikir materialistik. Bila ada yang menyuarakan nasionalisme maka suara itu seakan menyelinap  dalam ruang yang kosong.
Namun bagaimanapun  upaya penanaman rasa cinta tanah air sebagai  ritus  sosial  tak boleh berhenti, walau kemanjaan masyarakat terhadap konsumerisme menjadi-jadi  nasionalisme harus terus disuarakan, dan kaum pergerakan harus bangun dari tidur panjangnya.
Salah satu upaya yang dilakukan dalam menggugah kesadaran nasionalisme maka ada baiknya mengail pemikiran Peter A. Rohi. Lelaki kelahiran NTT, 14 November 1942  ini sekarang menjabat Direktur Soekarno Institute. Mantan anggota KKO (marinir) tersebut dikenal sebagai  jurnalis investigator yang handal yang berhasil menemukan tempat lahir Bung Karno di Kampung Padean Gang IV/40 Surabaya. Sosok petualang yang sekarang lebih banyak beraktivitas di Jakarta ini saat pulang kampung diajak berbincang oleh Rokimdakas dan Cahyo Sudarso dari indiependen.  Berikut rangkuman dialog di rumahnya :
Sisi lain dari pengaruh liberalisasi  menimbulkan  keresahan tentang memudarnya nasionalisme, apa yang bisa kita pelajari  dari sosok Soekarno sehingga bisa memiliki nasionalisme begitu kuat?
Dalam mengembangkan nasionalisme yang patut dilakukan adalah menumbuhkan dalam diri kita sendiri  lalu keluarga baru kemudian masyarakat. Jika kita belajar pada Soekarno, maka bisa menyimak  masa kecilnya di Tulungagung, di sana dia sering menonton wayang. Bagaimana dia ingin memerangi orang-orang yang curang itu dari pewayangan. Dari menonton wayang kulit  dia mengenal tentang kebenaran dan kejahatan.  Bahkan dia betah melihat sampai  pertunjukan berakhir, dan sesudah menonton biasanya dia mempunyai banyak bahan cerita yang disampaikan pada kakeknya, Harjo Dikromo yang penyabar. Jika cucunya ingin mengetahui sesuatu selalu dia tuntun hingga Soekarno kecil merasa senang dan paham.
Tapi orang tua sekarang, kalau menjawab pertanyaan anaknya atau cucunya cenderung aras-arasen. Padahal  saat seorang anak bertanya berarti dia sedang membentuk sesuatu dalam benaknya, dan itu berpengaruh pada pembentukan karakter.  Dalam bukunya Sarinah, Soekarno  secara jelas menyatakan, bila kaum ibu diberi kesempatan untuk pintar, maka mereka akan melahirkan anak-anak bangsa  yang pintar karena anak-anak selalu bertanya pada ibunya.
Sebagai orang tua kita seharusnya berusaha memberi suasana hati pada anaknya agar di masa kecil sudah mempunyai cita-cita yang luar biasa. Jangan sampai anak-anak itu jika ingin mempunyai sepeda atau  mobil lalu dijawab akan membelinya tapi katakanlah, “nanti kita akan membuat.” Sebab saat mengatakan hal itu setidaknya dalam pikiran anak terbangun fantasi, jika kelak jika sudah besar akan membuat mobil. Kita harus mengisi kekosongan pikiran anak bangsa ini dengan sesuatu yang benar. Kalu cuma beli, maling juga bisa, apalagi  para koruptor mobilnya bagus-bagus.
Dari sekian banyak ajaran Bung Karno, menurut anda mana yang paling relevan untuk diterapkan  sekarang?
Yang harus kita tata lebih dulu adalah masalah budaya, ekonomi dan politik. Sukarno pada tanggal 22 Juni tahun 1922 menulis di Pikiran Rakyat, atau sudah berlangsung 90 tahun. “Kelak jika kita merdeka maka negara-negara kapitalis akan tetap mengintai karena kita mempunyai kekayaan alam dan mereka akan kembali dengan segala macam cara, terutama dengan mengubah gaya hidup. Mulai selera makan dan segalanya  diubah oleh kapitalis  menjadi konsumtif.” Prediksi itu  sekarang benar-benar menjadi kenyataan.
Misalkan kita ke mall, berapa duit yang kita berikan pada asing. Jika ke Carrefour, berapa duit yang masuk ke Prancis. Setiap kita minum air kita sendiri menyerahkan pajak ke Perancis. Bayangkan, air kita sendiri..!  Itu konsep darimana? Masa kita nggak bisa bikin sendiri?.
Hampir seluruh  agroindustri kita sekarang sudah dikuasai asing …
Memang, berapa triliyun kita beli jeruk dari China? Apel dari Washington. Kalau saya jadi presiden, saya tinggal panggil menteri  pertanian, “Hei menteri, lu tahu jeruk ini tiap tahun kita beli sekian triliyun. Bisa nggak kamu membikin jeruk seperti ini atau lebih hebat lagi? Masak menteri pertanian yang punya teknologi pertanian nggak bisa?”. Thailand  yang dulu posisinya lebih rendah dari kita bisa membikin segala macam buah-buahan.  Bahkan Meksiko sekarang memasukkan pepaya  yang dulu kita dapat  dari Turen, Malang tapi sekarang tidak lagi, semua dari luar semua.
Konyolnya,  SBY   (Susilo Bambang Yudhoyono, presiden,  red) itu Doktor  Ekonomi Pertanian. Apa susahnya memerintahkan menteri pertanian. Tapi yang aneh, Fadel Muhammad ketika akan menyetop impor garam malah dipecat. Ini negara sudah sebagian besar milik asing.
Ini susahnya hidup dengan pemimpin-pemimpin yang sejak dari kecil tidak pernah berpikir tentang kebangsaan. Apalagi SBY, saat akan mencalonkan diri menjadi presiden sempat pergi ke Amerika dan disana dia melontarkan statement, “America is my second country…”  Kalau pemimpin punya negara kedua atau  ketiga, buat apa? Kita butuh pemimpin yang hanya mempunyai satu-satunya negara, yaitu Indonesia.
Anda menyatakan, Bung Karno Arek Suroboyo. Apa latar belakang sehingga Anda perlu mengekspose seperti itu. Apa istimewanya? Bukti-bukti apa saja yang memperkuat statement tersebut?
Kita kalau mau mempelajari seorang pemimpin maka harus menyimak proses pertumbuhannya hingga menjadi kreatif. Apa yang membuat  Soekarno mampu melontarkan pikiran-pikiran besarnya? Berdasar data sejarah yang otentik, Soekarno memang  benar-benar Arek Suroboyo, lahir di Kampung Pandean. Bung Karno sendiri bilang seperti itu. Di dalam arsip nasional yang direkam dia menyatakan, “saya lahir di Surabaya”. Lalu kenapa orang-orang tidak mempercayai pengakuan Bung Karno sendiri?
Menginjak usia sekolah orang tuanya pindah ke Tulungagung dengan lingkungan yang berbeda. Dari sana pindah ke Mojokerto kemudian  pernah nyantri di Pondok Pesantren di Bangkalan. Lalu  indekost  di rumah Tjokroaminoto hingga bertemu Alimin, Darsono, Sukardjo Wiropranoto. Di sana juga  ada Muso dan Kartosuwiryo dan  di tempat itulah dia  menemukan nasionalismenya.
Ada desain apa di balik pembelokan sejarah bahwa Bung Karno lahir di Blitar kemuidan setelah meninggal juga dimakamkan di sana?
Dalam buku karya Cindy Adams yang diterjemahkan pihak militer semasa Orde Baru menyatakan  Soekarno lahir di Blitar tapi sekarang sudah diubah Surabaya.  Mulanya saya berpikir positif  mungkin salah ketik.  Tapi kalau saya analisa bahwa pada waktu itu CIA – Central Intelejent America – bermain, membuat saya berpikir lagi bahwa itu memang disengaja.
Juga  mereka sudah berencana untuk memperpendek umur Soekarno dengan melakukan pembunuhan secara halus. Jika sudah mati harus ada satu tempat penguburan yang jauh dari massa pendukungnya. Kita tahu bahwa revolusi Roma itu terjadi  ketika Yulius Caesar dimakamkan. Nah Soekarno pun begitu, dia dijauhkan dari pengikut-pengikutnya, di daerah yang sepi sehingga tidak akan menimbulkan gerakan-gerakan.  Apa yang terjadi di Blitar tidak akan merangsang gerakan revolusi. Tapi jika penguburannya di Surabaya maka bisa jadi lain. Maka jika berpikir dengan konsep seperti ini maka CIA telah menyiapkan grand design.
Apa yang Anda maksud dengan pembunuhan secara pelan-pelan?
Dokter yang dikirim ketika Bung Karno sakit adalah dokter hewan. Jadi, Bapak Bangsa kita itu, bertahun-tahun diobati oleh dokter hewan. Itu Soeharto yang mengatur, dan semua itu konsep CIA, bagaimana diberi obat terus menerus sehingga menjadi timbunan racun lalu mati. Tentu semuanya dilakukan secara halus.
Bukankah Rachmawati sudah mengungkap resep-resep yang diberikan dan dokter dan yang tanda tangan itu dokter hewan dari Bogor. Bayangkan. Bapak kita sendiri kalau sakit  tidak mungkin mendatangkan dokter hewan. Padahal ini Bapak Bangsa, dan bangsa Indonesia tidak ada yang menyesalkan, tidak ada yang menangisi. Yang sadar barangkali cuma Gus Dur (Abdurrahman Wahid, presiden ke-4,red). Orang yang tahu persis, bagaimana Bung Karno diperlakukan Soeharto?.
Anda dulu dikenal pengagum Syahrir tapi kenapa kemudian beralih ke Soekarno?
Suatu ketika saya bertemu dengan Soebagio Sastrowardojo. Dia bertanya, buku-buku politik apa saja yang saya baca. Ajaran-ajaran siapa saja? Saya jawab kalau di Indonesia, ya Syahrir. Dia bertanya lagi, pernah nggak baca buku Soekarno? Saya bilang, cuma sepintas-sepintas saja. “Itu salah!!” sahutnya.
Bayangkan, dia itu Sekjen Partai Sosialis Indonesia yang ketika Soekarno berkuasa menjadi musuhnya Soekarno mengatakan salah kalau tidak belajar ajaran-ajaran Soekarno. “Itu ajaran yang paling benar untuk sosialis Indonesia,” itulah wasiat terakhirnya Soebagio sebelum wafat. Akhirnya saya buka kembali buku-buku Soekarno, di situ kita bisa membaca dengan jelas tentang cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Yang mempunyai kehendak memproklamirkan kemerdekaan Indonesia kan bukan hanya Soekarno?
Ada kisah menarik di sebuah restoran tentang pertemuan Syahrir dengan Tan Malaka yang baru pulang dari luar negeri. Ketika itu Tan Malaka populer di seluruh dunia karena seorang sosialis Eropa. Dalam pertemuan itu  dia mengatakan kalau dirinya ingin memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Syahrir tertawa.
Kata Syahrir, “jangan bercita-cita ingin memproklamasikan Indonesia.” Lalu Syahrir memanggil beberapa pelayan restoran sambil bertanya, “kamu kenal  sama orang ini?” Pelayan itu menggelengkan kepala.  Apa pernah dengar nama Tan Malaka? Pelayan juga itu mengaku tidak pernah mendengar. Ketika Syahrir bertanya, “apa kenal dengan Soekarno?” Dengan serempak para pelayan menyahut, “Kenal kenal  …” Nah, orang yang bisa memproklamirkan kemerdekaan Indonesia adalah orang yang dikenal masyarakat. Itu luar biasanya pemimpin kita waktu it, mereka saling mengakui keunggulan masing-masing.
Ada kesan ketakukan bila kembali ke ajaran Soekarno. Pendapat Anda?
Ketakutan untuk kembali ke ajaran Soekarno itu ketakutan yang diciptakan. Karena kalau kembali ke ajaran Soekarno akan terjadi nasionalisasi. Freeport, Exxon dan para kapitalis semuanya harus keluar. Ahli kita kan banyak, kita bisa menangani sendiri. Permasalahannya di situ.
Dengan karut marut kondisi Indonesia sekarang tidak ada pilihan lain harus kembali ke ajaran dan cita-cita Soekarno. Tapi ingat, kalau kita kembali ke situ jangan menunggu sampai semua kekayaan alam kita terkuras habis. Negara-negara Amerika Latin saja  berani, dan mereka mengakui bahwa langkah yang mereka ambil itu berdasarkan ajaran Soekarno.  Sedangkan kita di sini?
Apa yang harus kita lakukan Indonesia agar bisa lepas dari cengkeraman kapitalis?
Sekarang harus muncul seorang pemimpin yang benar-benar berani menyatakan kepada asing bahwa bangsa kita ini adalah pemilik syah kekayaan alam. Jika belum bisa mengelola sendiri maka kita harus mengajukan daya tawar yang tinggi.  Lihat  Freeport, hanya 2 persen saja untuk kita sisanya 98 persen diangkut ke Amerika. Itu harus kita balik, 98 persen untuk kita dan 2 persen untuk asing, itu saja dia sudah untung.
Kalau kita gencar menyuarakan tuntutan ini malah ditertawakan kalangan atas ….
Yaiyalah… karena mereka ikut menikmati.  Yang tidak menikmati itu kita bersama 230 juta penduduk Indonesia lainnya.
Apa perlu revolusi?
Yang kita  perlukan lebih dulu adalah  revolusi pemikiran. Kalau pemikiran kita masih seperti sekarang, merasa apa yang kita alami sekarang sudah enak, sikapnya serba santai, cenderung konsumtif, ya tentu saja payah …
Kalau sudah menyangkut mental maka segalanya menjadi stagnan …
Iya ini masalah mental. Mental minder yang begitu parah, merasa rendah diri karena melihat orang asing itu lebih hebat dari kita, seakan-akan orang asing itu segala-galanya. Coba baca buku-buku Bung Hatta betapa bangsa  kita sudah lebih jauh berpikiran jauh ke depan. Tidak jarang  kita begitu, jika sudah dikatakan oleh orang Barat kita terkagum-kagum. Saya pernah membaca statemen seorang ulama besar  di Timur Tengah yang mengatakan bahwa Pancasila akan menjadi kebutuhan dunia. Begitu juga seorang doktor di Eropa bahwa hanya Pancasila yang bisa menyelesaikan kerumitan dunia sekarang ini. Tapi sikap kita sendiri bagaimana … ©

Tidak ada komentar:

Posting Komentar